Book of the Month: When Breath Becomes Air - Paul Kalanithi

by - Juli 24, 2021


Before July ends, I'm forcing myself to back blogging and write this monthly article, hehe. Dari pertengahan Juni sampai pertengahan Juli sebetulnya aku belum menemukan buku yang benar-benar berkesan, jadi mau menulis artikel ini rasanya kurang bersemangat. Sampai hari Selasa lalu saat libur Idul Adha aku membaca buku ini hanya dalam waktu satu setengah hari karena ceritanya sangat menarik. Ternyata, buku ini menjadi salah satu favoritku di bulan Juli!

𝑾𝒉𝒆𝒏 𝑩𝒓𝒆𝒂𝒕𝒉 π‘©π’†π’„π’π’Žπ’†π’” π‘¨π’Šπ’“ - 𝑷𝒂𝒖𝒍 π‘²π’‚π’π’‚π’π’Šπ’•π’‰π’Š

I'm motivated to read this book because of booktubers Cari Can Read video. Jadi buku ini memang terkenal sekali, pernah masuk menjadi book of the month di Curl Up Book Club, salah satu buku yang (katanya) direkomendasikan oleh BTS RM, masuk daftar New York Times Bestseller, & salah satu finalis di The Putlizer Prizes. Dulu memang sempat ingin baca tetapi karena ceritanya sedih jadi aku hold dulu (takut malah trigger stress). Namun, di videonya, Cari bilang kalau buku ini cukup singkat, hanya 100 halaman dan setelah dibaca sampai habis, ternyata mindblowing.

Setelah aku membaca langsung buku ini sampai habis, aku benar-benar paham apa yang dimaksud Cari di videonya. Setelah selesai baca, yang aku lakukan adalah menghela napas sambil melihat sekeliling dengan tatapan kosong. My heart feel deep, empty, and warm at the same time. This book make me think... in a good way.

Jadi, buku ini merupakan kisah nyata dari seorang neurosurgeon bernama Paul Kalanithi. Buku ini mengangkat sudut pandang seorang dokter yang secara langsung berjuang melawan penyakit kanker paru-paru mematikan di umur 36. Sebelum terdiagnosa mengidap kanker, Paul sendiri memang sudah tertarik dengan filosofi dan mencari apa sebetulnya tujuan hidup. Karena itulah dia memilih profesi sebagai seorang dokter spesialis bedah saraf (padahal dia punya beragam gelar lain, dan dia pintar sekali!). Tetapi selama perjalanannya menjalani hidup berdampingan dengan penyakitnya, banyak sekali hal-hal yang terungkap.

Aku bisa bilang kisah hidup Paul cukup dramatis, tetapi bukan dramatis yang penuh dengan "drama", melainkan dramatis yang penuh kehangatan. Especially his relationship with the family and wife.

Kebetulan aku baca buku ini dalam versi bahasa Inggris dan sesuai ekspektasi, bagi pemula sepertiku, buku ini bukan tipe yang mudah untuk dibaca, terutama karena gaya bahasanya cukup filosofis dan banyak mengandung istilah-istilah kedokteran. Aku benar-benar memanfaatkan fitur kamus di Kindle saat membaca buku ini. Hahaha. Untungnya karena saat ini aku juga sedang mengikuti drama Korea Hospital Playlist, jadi untuk istilah-istilah kedokteran sederhana, aku sudah sedikit familiar. Walaupun sejujurnya aku masih ingin coba baca ulang versi bahasa Indonesia karena merasa sepertinya akan lebih banyak pesan-pesan yang bisa aku ambil. Maybe next time.

Tambahan sedikit, just my two cent, menonton Hospital Playlist dan membaca buku ini seperti melihat hal yang sama. Bahwa profesi dokter (terutama dokter bedah) bukan sekedar mengobati, dan selesai. Profesi ini sangat erat dengan kemampuan mengambil keputusan, terlebih saat dokter tersebut harus memberikan pernyataan tingkat harapan hidup seorang pasien kecil atau besar. Bagaimanapun mereka juga manusia dan punya emosi. Aku pernah nonton satu video seorang dokter yang bilang mungkin terkadang beberapa dokter terlihat kaku dan sangat teoritis, karena mereka berusaha untuk enggak terlalu terbawa emosi. Bagaimanapun walaupun di menit itu dia menyaksikan seorang pasien yang sudah dirawat sekian lama akhirnya enggak tertolong dan meninggal, menit berikut emosinya harus kembali stabil untuk pindah ke pasien selanjutnya. Mereka harus bisa berpikir jernih supaya bisa kembali mengambil keputusan yang tepat.

Beberapa kutipan favoritku:

- Ketika Paul sedang menjadi intern di departemen ob-gyn, saat dia melihat bagaimana keputusan seorang dokter bisa mempengaruhi nyawa seorang bayi.
"What a call to make. In my life, had I ever made a decision harder than choosing between French dip and a Reuben? How could I ever learn to make, and live with, such judgment calls? I still had a lot of pratical medicine to learn, but would knowledge alone be enough, with life and death hanging in the balance?"


- Saat Paul memutuskan untuk kembali aktif melakukan operasi sebagai dokter bedah saraf.
"Even if I'm dying, until I actually die, I am still living."


- Saat paul menceritakan pengalamannya lahir di keluarga yang religius.
"Human knowledge is never contained in one person. It grows from the relationships we create between each other and the world, and still it is never complete.


- Pesan dari dokter untuk Paul
"You can stop neurosurgery if, say, you want to focus on something that matters more to you. But not because you are sick. You aren't any sicker than you were a week ago. This is a bump in the road, but you can keep your current trajectory. Neurosurgery was important to you."

You May Also Like

0 komentar

Thank you ya sudah mampir dan meninggalkan komentar 😍