Pengalaman 8 Minggu Jadi Vegetarian

by - Desember 18, 2020

foto kemasan susu nabati

Dulu aku enggak pernah membayangkan kalau ternyata aku bisa tertarik untuk jadi vegetarian. Menurutku Tuhan ciptakan sumber daya untuk saling melengkapi satu sama lain. Hewan-hewan yang kita konsumsi, aku yakin memang sudah mempunyai perannya masing-masing di bumi. Hanya kita harus memanfaatkan sumber daya yang ada dengan adil dan secukupnya. Jadi selama makanan tersebut halal, aku masih akan konsumsi. Dan pemikiran ini sebenarnya masih aku pegang hingga sekarang.

Alasan menjadi vegetarian

Salah satu alasan akhirnya aku mencoba gaya hidup vegetarian adalah karena faktor kesehatan. Jadi, beberapa waktu lalu, Clozette Indonesia mengadakan Instagram Live bersama Wulan Russel, membahas tentang menstrual cup. Di sela-sela obrolan saat live, Wulan bilang bahwa semenjak mengadaptasi gaya hidup vegan, dia merasakan beberapa perubahan di tubuhnya, salah satunya adalah dia sudah enggak pernah lagi mengalami kram perut yang berlebihan saat haid.

Aku termasuk salah satu yang mengalami kram perut yang cukup parah setiap hari pertama haid. Setiap hari pertama haid aku sudah pasti minta izin ke kantor, untuk diberikan waktu istirahat, karena sebegitu parahnya kram yang aku rasakan, aku menjadi lebih sensitif terhadap beberapa hal. Aku enggak bisa minum obat karena perutku mual dan selalu muntah 2-3x dalam satu hari tersebut. Karena merasa mual, aku jadi takut untuk makan apapun, dan biasanya aku hanya makan sayur bening selama satu hari itu (tanpa nasi). Aku juga enggak bisa banyak minum air putih karena takut kembung dan sering ke kamar mandi. Akibatnya selain kram perut, mual, badanku juga sangat lemas karena kekurangan cairan dan karbohidrat. Dan jujur sampai sekarang aku cukup ketakutan setiap menjelang hari pertama haid. :(

Kenapa enggak periksa ke Obgyn? Hehehe.. aku masih belum berani.

Aku juga sudah coba beragam cara, seperti menggunakan heating pad, botol air hangat, konsumsi Panadol Menstrual, Kiranti, Feminax, tetapi belum ada yang benar-benar menjadi solusi.

Aku sering dengar dari teman bahwa nanti setelah menikah dan punya anak, nyeri haid akan perlahan hilang. Namun, karena aku belum ada rencana menikah dalam waktu dekat, solusi ini pastinya kurang cocok untuk aku. Makanya saat dengar tentang manfaat menjadi vegan/vegetarian untuk mengurangi nyeri haid, aku pikir kenapa enggak aku coba. Walaupun, bisa dibilang aku termasuk vegetarian tingkat pemula, karena masuk kategori lacto-ovo vegetarian, yaitu vegetarian yang masih mengonsumsi telur susu sapi, dan produk olahan dari telur dan susu sapi.

Jenis-jenis vegan/vegetarian (dikutip dari situs HelloSehat.com):
. Vegan (enggak makan semua jenis daging, telur, susu, dan turunannya)
. Semi vegetarian (hanya menghindari daging merah)
. Lacto-ovo vegetarian (enggak makan semua jenis daging, tetapi masih konsumsi telur, susu, dan turunannya)
. Lacto vegetarian (enggak makan semua jenis daging dan telur, tetapi masih konsumsi susu dan turunannya)
. Ovo vegetarian (enggak makan semua jenis daging, susu, dan turunannya, tetapi masih konsumsi telur)
. Pesco vegetarian (mengindari semua jenis daging kecuali daging ikan)

Aku mulai menjadi lacto-ovo vegetarian sejak 26 Oktober 2020, berarti hari ini adalah minggu ke-8 aku menjadi vegetarian.

Kenapa aku pilih lacto-ovo vegetarian? Karena jujur menghindari telur dan susu sapi bagi aku sangat sulit. Selama work from home, aku bisa minum 1-2 karton susu sapi UHT setiap minggu, entah itu diminum langsung ataupun dicampur kopi. Selain itu aku juga sangat suka mengonsumsi yoghurt (aku juga sempat membagikan resep granola yogurt di artikel ini). Terlebih aku sangat suka makan roti, dan salah satu isian roti favoritku adalah keju, jadi benar-benar sulit apabila tiba-tiba harus menghilangkan susu sapi dari hidupku. Hehehe. Untuk telur juga sangat sulit karena hampir semua makanan olahan seperti biskuit, mengandung telur.

Namun, aku sekarang sudah sangat mengurangi konsumsi susu sapi cair dan kopi susu. Selama 8 minggu aku belum pernah minum susu sapi murni dan yoghurt. Biasanya hanya minum susu sapi dari kopi susu itupun maksimal satu minggu sekali. Sekarang pun aku mulai mencoba beralih ke kopi susu kedelai.

Jadi, apakah menjadi lacto-ovo vegetarian itu sulit?

Sejauh ini menurutku enggak. 

Sejujurnya aku bukan pecinta daging, biasa saja. Mungkin yang paling aku rindu dari daging adalah teksturnya yang kenyal. Namun aku masih bisa menahan, sih.

Selama di rumah aja aku sama sekali enggak merasa kesulitan. Sejauh ini aku masih bisa makan dengan baik seperti biasa. Pilihan menu yang bisa aku makan juga masih beragam. Selama 8 minggu aku baru cheating dua kali. Itupun bukan cheating yang direncanakan. Satu kali cheating karena waktu itu sedang ikut acara dan di sana enggak ada pilihan makanan lain selain daging, dan satu lagi aku lupa bahwa omuk (otak-otak ala Korea) mengandung ikan, tetapi sudah terlanjur dimakan. Haha.

Nah, mungkin kesulitannya hanya pada saat di luar rumah. Apabila sedang ikut acara yang bebas bisa pesan makan sendiri, enggak masalah. Namun, apabila sedang ikut acara formal dan harus makan makanan yang disediakan di acara, ini agak sulit. Tetapi untungnya selama PSBB enggak terlalu sering ikut acara offline jadi belum terlalu masalah.

Menjadi vegetarian juga enggak membuat menu makan aku tiba-tiba menjadi hanya salad atau makanan sehat ala barat. Hehehe. Entah kenapa dulu aku sering pikir kalau vegetarian itu repot, menu makan jadi sayur mentah dan salad ala barat. Padahal menu masakan Indonesia yang cocok untuk vegetarian juga sangat banyak. Aku juga terkadang masih makan sayur sop yang ada baso di dalamnya, namun aku hanya makan sayurannya saja. Untuk penyedap masakan seperti Royco atau Masako, sudah aku ganti dengan bumbu penyedap berbahan dasar jamur tanpa monosodium glutamat (MSG). Bumbu dari jamur rasanya menurutku sama saja seperti bumbu ayam/sapi saat sudah bercampur dengan bahan masakan.

Oh iya, aku juga masih makan mi instan rasa ayam dan lainnya satu minggu sekali, hehe. Selama di mi tersebut enggak ada daging utuh, aku masih makan.

Foto berikut adalah salah satu menu makanku, nasi dengan tumis kangkung dan tahu kulit goreng.

menu makan vegetarian sayur kangung, nasi, dan tahu kulit goreng

Gaya hidup vegetarian itu mahal?

Menurutku enggak. Justru harga sayuran lebih murah dibanding daging. Hehehe.

Aku memang sering dengar ada beberapa gerai makanan yang menjual burger vegetarian atau gerai salad yang harganya cukup mahal. Mungkin kembali lagi ke pilihan masing-masing individu. Apabila kamu sangat suka daging dan harus memasukkan menu "daging" vegan ke asupan sehari-hari, mungkin akan jadi mahal. Atau kamu suka makan salad dengan dressing yang membutuhkan bahan-bahan impor, mungkin akan jadi mahal.

Namun, apabila makan menu masakan Indonesia seperti tumis sayur, sayur lodeh, atau sayur bening,  dari pengalamanku, harganya sama sekali enggak mahal. Justru lebih murah. Kemarin aku sempat coba delivery rice box vegan di Grab Food (isi nasi, jamur goreng tepung, sayur tumis, dan telur vegan), harganya cukup masuk akal yaitu Rp26.000.

Kalau aku yang pengeluarannya meningkat mungkin hanya untuk susu, karena susu/sari nabati harganya lebih mahal dibanding susu sapi. Namun jujur aku kurang suka dengan rasa susu/sari nabati seperti kedelai dan almond karena rasanya hambar terlebih varian tanpa gula atau pemanis. :(

Manfaat yang aku rasakan selama 8 minggu menjadi lacto-ovo vegetarian

Selama 8 minggu ini aku semakin jarang merasakan sakit kepala dan migrain. Biasanya apabila sedang konstipasi, perut sangat begah, leher kaku, dan kepala menjadi sangat berat. Minum paracetamol kadang enggak terlalu berpengaruh. Pusingnya baru hilang setelah isi perut dikeluarkan di kamar mandi. Namun, belakangan pencernaanku menjadi lebih lancar sehingga jarang lagi merasakan leher kaku dan sakit kepala.

Apakah sudah melihat efek menjadi vegetarian mengurangi nyeri/kram perut saat haid?

Selama 8 minggu menjadi vegetarian, aku baru menemui siklus haid 2 kali. Periode haid pertama, aku baru jalan 1 minggu menjadi vegetarian jadi efeknya sama sekali belum terlihat.

Di periode haid kedua, ternyata aku mulai bisa merasakan efeknya! Keram perut memang masih terasa, tetapi paling enggak aku sama sekali enggak muntah! Senang sekali. Aku belum tau pasti apakah ini benar-benar efek menu vegetarian, atau hanya kebetulan. Namun aku harap ini benar-benar karena menu vegetarian. Mari kita lihat di periode haid selanjutnya.

Oh iya, selama 8 minggu ini aku sudah sangat mengurangi konsumsi kopi, roti-rotian, dan produk olahan susu sapi. Mungkin hal ini juga berpengaruh dalam mengurangi kram perut saat haid.

Akan terus lanjut jadi vegetarian?

Ya! Aku akan terus lanjut menjadi vegetarian. Aku masih penasaran dengan efeknya mengurangi keram perut saat haid. Aku juga masih ingin coba menu vegan lainnya. Namun aku merasa harus belajar banyak tentang menu ini supaya enggak kekurangan nutrisi seperti kalsium, zinc, protein, dan vitamin B 12 yang biasanya terkandung di daging hewan.

Aku juga berusaha mengonsumsi lebih banyak makanan yang bernutrisi seperti buah dan mengurangi konsumsi roti serta makanan dengan banyak penyedap rasa.

You May Also Like

3 komentar

  1. kayaknya aku juga harus menerapkan gaya hidup vegetarian deh, soalnya aku jarang makan sayur, dan mudah pusing huhu

    BalasHapus
  2. Semangatt ya mbak..semoga kedepan kram nya bener-bener berkurang karena menjadi vegan..

    Kalo saya masih berpikir sayur itu ngebosenin haha jadi makan sayur ya sebutuhnya buat badan dulu aja

    BalasHapus
  3. Apakah bentar lagi partner jajan kopi aku di kantor akan berkurang?:( semoga bisa tetap konsisten dan bikin tambah sehat ya, terutama untuk masalah period cramp!

    Btw selama wfh juga aku mutusin buat jadi pescatarian tapi belum terlalu konsisten soalnya masih ada cheating day seminggu sekali.

    BalasHapus

Thank you ya sudah mampir dan meninggalkan komentar 😍