Review, Tips & Trik Kindle E-Book Reader (Indonesia), Worth It or Not?

by - Oktober 10, 2020

foto kindle saat dipegang

Akhirnya aku pindah dari buku cetak ke buku digital! Aku sebenarnya mulai tertarik untuk pindah karena melihat e-book reader Crema Soundup di video Ondo. Desain Crema Soundup ini super menggemaskan dengan warna putih dan bentuk yang kompak.

Di Indonesia sendiri, e-book reader yang paling populer dan banyak dijual adalah Amazon Kindle. Harganya menurutku lumayan mahal, sehingga aku harus memastikan produk ini cocok untukku dan akan digunakan terus. Selain harga, aku juga masih maju mundur membeli produk ini karena mataku tergolong sensitif dan mudah lelah apabila terlalu lama melihat layar gadget.

Source: Youtube

Namun, belakangan buku yang ingin aku baca semakin sulit ditemukan. Buku bekasnya sangat langka. Apabila ada buku cetak yang baru dan asli pun harus pre-order selama 30-45 hari dan harganya juga sangat mahal! Itupun masih belum 100% pasti sampai dengan aman karena pengiriman yang terhambat akibat COVID-19.

Kekhawatiran memuncak, akhirnya spontan suatu hari aku memutuskan untuk beli Amazon Kindle tanpa perencanaan sebelumnya. Pembelian ini benar-benar mendadak dan sangat impulsif.

Saat artikel ini naik, aku sudah menggunakan Amazon Kindle kurang lebih selama 4 minggu. Selama 4 minggu tersebut juga aku membaca kurang lebih lima buku. Semoga artikel ini dapat memberikan informasi selengkap-lengkapnya tentang Amazon Kindle. Jadi, baca terus sampai habis, ya! :)

foto logo amazon di bagian belakang kindle

Apa itu Amazon Kindle?

Kindle merupakan sebuah merek yang dikeluarkan oleh Amazon.
Macam-macam Kindle:
⤿ Toko elektronik untuk membeli buku digital (e-book)
⤿ Alat elektronik untuk membaca buku digital
⤿ Aplikasi untuk membaca buku digital

Salah satu yang paling terkenal dan yang akan aku banyak bahas di artikel ini adalah alat elektronik untuk membaca buku digital, yaitu Kindle device

Kindle device pertama dirilis tahun 2007. Alat ini terhubung langsung dengan Kindle Store, tempat kita membeli buku digital. Kita juga bisa membeli buku di toko lain seperti di Google Play Books dan memasukannya ke Kindle (nanti akan dibahas lebih lengkap tentang ini), tetapi Kindle device hanya bisa membaca file jenis mobi.

Lalu untuk aplikasi Kindle, bisa kita download di devices manapun, melalui Google Play dan App Store. Fungsi aplikasi Kindle adalah untuk membaca buku digital dan bisa terhubung dengan Kindle Store.

Apa Bedanya Kindle Device dengan Tablet atau iPad?

Dari segi desain, Kindle device memang terlihat mirip dengan tablet, tetapi Kindle dan tablet mempunyai spesifikasi yang berbeda. Karena Kindle ditujukan sebagai alat membaca buku digital, jadi fungsinya hanya untuk membeli, membaca buku, dan mendengarkan audiobook. Berbeda dengan tablet yang mempunyai beragam fungsi. 

Fungsi ini yang banyak diincar para pembaca buku. Apabila membaca di smartphone atau tablet, kadang kita sulit untuk fokus karena banyak notifikasi atau godaan aplikasi lain. Lain halnya saat membaca dengan Kindle kita enggak bisa melakukan hal lain selain membaca.

Selain itu, layar Kindle juga menggunakan teknologi e-ink electronic paper yaitu layar yang terlihat seperti kertas. Berbeda dengan tablet atau smartphone yang menggunakan layar LCD. Kelebihan e-ink display adalah enggak memantulkan cahaya sehingga bisa dibaca walaupun di bawah cahaya matahari langsung atau lampu yang terang, menggunakan daya yang sangat sedikit sehingga baterainya lebih awet, dan e-ink juga dikatakan enggak membuat mata cepat lelah dibanding saat membaca dengan layar LCD. Namun, e-ink juga mempunyai kekurangan, yaitu hanya bisa menampilkan gambar hitam dan putih.

perbandingan layar smartphone dan layar kindle saat terkena sinar matahari langsung

Jenis-Jenis Kindle

Sejak tahun 2007, Kindle device banyak mengeluarkan jenis baru dengan fitur dan desain yang lebih canggih dan menarik. Tiga model yang saat ini paling populer di Indonesia adalah: Kindle Basic, Kindle Paperwhite, dan Kindle Oasis.

Kindle Basic mempunyai harga yang paling murah dengan fitur paling sederhana, Kindle Paperwhite adalah model tengah dengan harga yang enggak terlalu mahal dan mempunyai fitur yang cukup lengkap. Sedangkan Kindle Oasis adalah jenis yang paling mahal dengan fitur paling canggih. Untuk pemula, banyak yang menyarankan untuk memilih Kindle Paperwhite. Namun, apabila kamu punya dana yang terbatas, bisa memilih Kindle Basic.

Selain itu, Kindle jenis tertentu mempunyai fitur yang berbeda. Misalnya, Kindle Paperwhite 4 10th Gen terbagi menjadi versi dengan iklan atau tanpa iklan. Lalu ada yang memiliki kapasitas memori 8 gigabyte atau 32 gigabyte. Masing-masing versi mempunyai harga yang berbeda.

Apa Bedanya Kindle With Ads (dengan Iklan) dan Without Ads (tanpa Iklan)?

Sejujurnya aku belum pernah coba langsung Kindle device tanpa iklan, namun untuk Kindle dengan iklan, bagi aku pribadi sama sekali enggak menggangu, karena iklannya hanya muncul saat Kindle dalam mode sleep dan di halaman depan. Saat membaca buku, sama sekali enggak ada iklan yang muncul. Iklan yang ditampilkan juga iklan buku dan (menurutku) desainnya sama sekali enggak mengganggu. Jadi aku menyarankan beli yang versi dengan iklan saja, supaya lebih hemat. :)

contoh iklan yang muncul di kindle

Fitur-Fitur di Kindle

Karena saat ini aku baru mencoba dan sedang menggunakan Kindle Paperwhite, jadi aku hanya menjelaskan fitur-fitur yang aku temukan di Kindle Paperwhite, ya.

⤻ Backlight untuk membaca di ruang gelap
⤻ Waterproof
⤻ Bookmark
⤻ Meng-highlight kata-kata penting
⤻ Dapat melihat arti kata dari kamus cambridge
⤻ Jenis, ukuran huruf, dan margin dapat diubah
⤻ Membaca sampel buku sebelum membeli di Kindle Store
⤻ Mendapat kredit $0.8 setiap membeli di Kindle Store
⤻ Mendengarkan audiobook

fitur kamus di kindle

Berapa Budget untuk Membeli Kindle Beserta Bukunya?

Sebenarnya untuk budget, mungkin setiap orang berbeda-beda, tergantung jenis Kindle yang dipilih dan aksesoris tambahan yang digunakan. Kali ini aku akan berbagi sesuai pengalamanku kemarin, ya.

Aku beli Kindle di Tokopedia ChaCha's Gadget

Harga Kindle Paperwhite 4 10th Gen 8 Gb with Ads: Rp2.049.000
Ongkos kirim: Rp29.000
Origami Smart Cover: Rp140.000
Buku Stillness Speaks Eckhart Tolle: $8.35 dan dikonversi menjadi Rp128.577
--
Total pembelian: 2.346.577 atau dibulatkan menjadi 2.350.000

Oh iya, di Kindle Paperwhite, hanya ada satu tombol kecil yang menurutku rawan rusak apabila dipencet terus menerus. Jadi aku menambahkan smart cover dengan penutup magnetik supaya enggak perlu pencet tombolnya untuk menyalakan atau mengaktifkan mode sleep. Selain itu smart cover juga membuat Kindle device lebih nyaman untuk digenggam tanpa harus takut lecet.

tombol di kindle

Buku Digital Lebih Murah Dibanding Buku Fisik?

Ya, terutama untuk buku impor dengan bahasa Inggris, bedanya bisa Rp100.000 ke atas. Contohnya buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck, di toko buku Periplus harganya Rp284.000, sedangkan di Kindle harganya Rp178.250 (dengan kurs $1 = Rp15.500). Buku digital juga enggak memerlukan biaya ongkos kirim, justru kita akan dapat poin $0.80 untuk diskon di pembelian selanjutnya. Lumayan sekali, ya?

Tips Membaca Buku (Original dan Legal) di Kindle Tanpa Harus Punya Rekening Jenius dan Kartu Kredit

Sebenarnya, cara paling gampang membaca buku ke Kindle device adalah dengan membuat akun Amazon dan membeli buku langsung di Kindle Store melalui Kindle device. Namun, karena Kindle belum resmi masuk ke Indonesia, jadi kita harus punya alamat Amerika Serikat. Tenang, tenang, aku juga enggak punya alamat di Amerika, dan alamat tersebut sebenarnya enggak terlalu penting selama kita hanya beli barang digital. Jadi, beberapa sumber menyarankan untuk memasukkan alamat random dari internet. Setelah akun Amazon kamu jadi, kamu hanya perlu mengkoneksikan alat pembayaran dengan akun Amazon dan voila, kamu sudah bisa beli buku di Kindle Store! Oh iya, buku yang kamu beli di Kindle Store juga bisa kamu baca di devices manapun, bisa kamu akses melalui website Amazon di laptop, ataupun aplikasi Kindle di smartphone dan tablet.

tampilan kindle store di kindle device

Namun, bagaimana kalau enggak punya kartu kredit? Kamu bisa koneksikan kartu debit berlogo VISA, seperti kartu debit Jenius dengan memasukkan nomor kartu ke Amazon. Pastikan juga saldo kartu Jenius kamu cukup untuk melakukan transaksi, ya. Kemarin kerabatku sempat coba buka rekening Jenius di saat pandemi dan ternyata prosedurnya semudah dan secepat itu, lo! Semua dilakukan secara online, dan enggak sampai 5 jam sudah bisa melakukan transaksi. Tapi jujur, kurs rupiah memang sedang agak tinggi, jadi membeli buku di Kindle Store jadi agak mahal sekarang.

Lalu, apabila enggak punya rekening Jenius? Tenang, masih ada cara lain untuk membaca buku original di Kindle secara legal, yaitu dengan cara membeli buku di Google Play Books! Pastikan kamu sudah cek harga bukunya terlebih dahulu, lalu isi saldo Google Play dengan membelinya di Indomaret, dengan pulsa, atau GoPay. Setelah dibeli, download file-nya di komputer. Biasanya file buku dari Google Play Books mempunyai format epub. Sebelum dimasukkan ke Kindle, kamu harus ubah menjadi format mobi. Aku biasanya format menggunakan situs ebook.online-convert.com. Setelah itu, kirim file tersebut dalam bentuk attachment melalui e-mail, ke alamat e-mail Kindle yang bisa kamu cek di Kindle devide dengan cara: 
⤻ Buka tab "Setting"
⤻ Buka tab "Your Account"
⤻ Di paling bawah, bagian "Send-to-Kindle Email", kamu bisa menemukan alamat e-mail Kindle, kamu.
⤻ Pastikan kamu mengirim file dari alamat e-mail yang kamu gunakan untuk daftar Amazon, ya.

Setelah itu, cek kembali inbox e-mail yang kamu gunakan untuk daftar Amazon. Biasanya akan ada e-mail masuk yang isinya meminta izin apakah boleh memasukkan file buku tersebut ke Kindle device. Lalu kamu cukup klik "Verify request"

Setelah Kindle device terhubung dengan wi-fi, buku otomatis masuk ke dalam Kindle device! Mudah, bukan? Jadi, intinya kamu bisa membeli buku di mana saja dan membacanya di Kindle device, asalkan file e-book-nya bisa kamu download dan ubah menjadi format mobi.

Namun, ada beberapa buku yang walaupun formatnya sudah diubah menjadi mobi masih kurang enak untuk dibaca di Kindle. Aku pun sempat mengalami hal ini dengan buku The Seven Habits of Highly Effective People yang aku dapatkan secara gratis. Karena formatnya kurang pas, Kindle device-ku sempat eror 2x sehingga harus aku restart berulang-ulang. Akhirnya bukunya aku hapus secara permanen dan masalahnya selesai. Jadi perlu hati-hati juga apabila membaca buku yang enggak dibeli secara resmi di Kindle Store.

Di Kindle Bisa Membaca Buku Bahasa Indonesia?

Tentu bisa, dong. Tetapi kembali lagi dengan trik di atas, kamu harus sudah mempunyai file e-book-nya dan ubah menjadi format mobi, lalu kirim ke Kindle device. Karena Kindle Store hanya menyediakan buku berbahasa Inggris.

Kalau beli buku di Gramedia? Aku pernah lihat di beberapa sumber bilang bahwa buku digital dari Gramedia hanya bisa dibaca di aplikasi Gramedia, jadi enggak bisa dimasukkan ke Kindle.

Di Kindle Bisa Membaca Komik dan Al-Quran?

Aku belum pernah mencoba secara langsung, tetapi apabila search di internet, ada beberapa orang yang pernah mencoba dan bisa untuk membaca komik dan Al-Quran.

Baterai Kindle Benar-Benar Awet?

Mungkin karena aku terlalu banyak membaca artikel atau melihat video yang bilang kalau baterai Kindle sangat awet, bisa sampai satu bulan lebih. Alhasil, saat benar-benar punya, aku agak kecewa kenapa baterai Kindle aku enggak awet seperti yang orang-orang bilang? Aku sampai konsultasi dengan penjualnya dan sempat curhat juga ke teman. Aku sempat berpikir, apakah Kindle yang aku punya adalah barang defect? Hahaha karena baru pertama kali pakai dan belum familiar jadi lebih was-was.

Namun, setelah browsing di forum Kaskus dan menggunakan Kindle selama satu bulan, aku sedikit mendapat pencerahan. Seperti gadget lain, intensitas penggunaan pastinya berpengaruh terhadap ketahanan baterai. Satu minggu awal setelah membeli Kindle, baterai Kindle punyaku hanya bertahan satu minggu dari 100% hingga 6%. Setelah aku isi ulang, minggu selanjutnya bertahan hingga 2 minggu lebih dari 100% hingga 18%. Jadi sebetulnya kembali lagi dengan intensitas pemakaian. Di minggu pertama karena masih baru, aku jadi lebih sering eksplor Kindle dan browsing di Kindle Store dengan wi-fi yang menyala. Lalu pada saat itu aku juga sedang intens menghabiskan buku Eat Pray Love dan Stillness Speaks. Alhasil baterainya cepat terkuras.

Masuk minggu kedua, aku lebih jarang eksplor Kindle dan hanya menggunakannya untuk membaca. Intensitasnya juga sedikit berkurang, aku hanya menghabiskan waktu sekitar 3 jam sehari untuk membaca. Selain itu aku sudah menggunakan smart cover sehingga saat enggak dibaca, aku bisa langsung mengaktifkan mode sleep hanya dengan menutup cover, tanpa harus menunggu Kindle mengaktifkan mode sleep secara otomatis (yang memakan waktu kurang lebih 5 menit). Baterainya menjadi lebih awet.

Namun, aku memang belum pernah merasakan baterai Kindle awet sampai lebih dari satu bulan. Oh iya, ada juga beberapa artikel yang mengatakan baterai Kindle harus dicek setiap hari. Karena apabila dianggurkan selama berminggu-minggu tanpa digunakan, bisa-bisa baterainya habis dan Kindle-nya mati total kemudian eror. Jadi, cek Kindle devices setiap hari minimal satu kali, ya

Membaca di Kindle Terasa Seperti Membaca di Kertas?

Menurutku... enggak.

Di bagian atas, aku sudah menjelaskan bahwa Kindle menggunakan layar e-ink, berbeda dengan smartphone atau tablet yang menggunakan layar LCD. Banyak yang bilang bahwa mata enggak mudah lelah saat menggunakan Kindle. Bagi aku pribadi yang punya mata cukup sensitif, membaca di Kindle rasanya tetap berbeda dengan membaca kertas asli. Kertas asli sama sekali enggak membuat mata lelah (mungkin hanya sedikit mengantuk, hehe). Sedangkan Kindle, walaupun enggak seintens layar smartphone, tetapi masih terasa membuat mata lelah.

Terlebih saat baca di ruangan gelap (ini sebetulnya enggak boleh dilakukan terlalu sering), otomatis aku harus menaikkan intensitas cahaya layar, dan ini membuat mataku semakin cepat lelah. Aku biasanya mengaktifkan night mode sehingga layarnya berubah menjadi warna hitam. Apabila membaca di ruangan terang, cahaya layar Kindle aku set menjadi 0 sampai 4 supaya mataku enggak cepat lelah. Hanya aku ulangi, memang Kindle lebih ramah di mata dibandingkan smartphone.

Jadi, Kindle Worth It Untuk Dibeli Atau Enggak?

Untuk aku pribadi, worth it!

⊿ Dengan Kindle device, aku enggak lagi pusing soal penyimpanan buku. Sangat hemat tempat, sangat cocok bagi yang menerapkan gaya hidup minimalis. Sekarang aku sudah benar-benar enggak pernah beli buku fisik.
⊿ Kamar jadi enggak banyak debu dan nyamuk karena banyak buku. :))
⊿ Fitur kamusnya sangat membantu.
⊿ Walaupun, terkadang masih kangen membaca buku fisik, karena saat membaca dengan Kindle sering dikira sedang main tablet.
⊿ Dengan buku digital, lebih banyak kesempatan membaca buku secara gratis, jadi lebih hemat. :))
⊿ Hemat waktu untuk browsing buku, karena di Kindle Store bukunya sangat lengkap dan bisa langsung baca sample-nya juga!

Merek E-Reader Selain Kindle

Selain Kindle, sebetulnya banyak merek e-book reader lain, seperti:

৲ Rakuten Kobo
৲ Yes24 Crema
৲ Xiaomi
৲ Ridibooks
৲ Barnes & Noble Nook
৲ BOOX
৲ Boyue Likebook

tampilan halaman depan kindle

You May Also Like

1 komentar

  1. Dari dulu pensarana sama yang namanya Kindle ini, habis baca tulisan ini serasa kayak tau banget akhirnya seperti apa kindle itu. Dari tulisan ini juga Aku tau beberapa hal yang ternyata bikin kindle ini cukup favorit dan populer di kalangan para penikmat buku.


    Fitur yang ditawarkan cukup menarik dan berguna untuk pecinta buku. Jadi inget masa masa SMA yang dipaksa baca buku keluaran luar negeri buat bikin speech text untuk lomba. Baca buku sembari bolak balik kamus yang juga Kubawa dan kuletakkan disampingku

    BalasHapus

Thank you ya sudah mampir dan meninggalkan komentar 😍