Curhat: Menyerah Mengikuti Gaya Hidup Zero Waste

by - October 11, 2019

zero waste minimalis

"Langkah kecil juga merupakan proses."

Aku sering membaca kalimat ini di buku-buku. Aku yang dulu sangat antusias mengikuti gaya hidup  minimalis dan minim sampah, sekarang mulai merasa: sepertinya usahaku sia-sia dan enggak memberikan dampak yang berarti.

↪ Aku masih suka jajan minuman kopi dengan gelas sekali pakai.

↪ Masih suka beli makanan kecil dengan wadah kantung/styrofoam.

↪ Masih pakai makeup dan skincare berwadah plastik dan berbahan kimia yang tidak terurai.

↪ Masih memakai pemanas air hangat.

Dan masih banyak lagi. Yang apabila disebutkan pastinya enggak selesai malam ini.

Hati juga kadang masih suka bandel dan "lupa" dengan komitmen sebelumnya. Dengan alasan terpaksa masih suka pakai sedotan plastik, padahal langsung minum juga bisa. Kadang juga masih tergoda membeli produk "tidak ramah lingkungan" karena tergiur dengan harga yang lebih terjangkau.

Intinya, 3 hal terberat dalam mengikuti gaya hidup minim sampah menurutku adalah:
↪ Biayanya mahal.
↪ Cukup merepotkan.
↪ Masih suka lupa.

Namun kembali ke kalimat awal artikel ini: langkah kecil juga merupakan proses.

Aku diingatkan bahwa sekecil apapun usaha kita, selama dilakukan tentu punya dampak. Lalu aku mulai mengingat hal-hal kecil apa yang juga telah aku lakukan, seperti:

↪ Sepenuhnya mengganti sampo cair konvensional dengan sampo batang tanpa kemasan.
↪ Tidak pernah lagi menerima kantung plastik dari toko swalayan.
↪ Mengganti sikat gigi karet dengan sikat gigi bambu.
↪ Hanya memakai bamboo cotton swab di rumah.
↪ Membeli makeup dan skincare hanya ketika dibutuhkan.
↪ Berusaha mencari alternatif sustainable fashion.
↪ Menggunakan barang dengan semaksimal mungkin sebelum menggantinya dengan yang baru.

zero waste minimalis

Semua memang ada prosesnya dan kecepatan setiap orang berbeda-beda. Ada yang dari awal sudah mulai mengganti semua peralatan rumah tangga dengan sabun alami, lalu sampah rumah tangga berhasil dikomposkan. Aku tentunya masih jauh dari praktik tersebut. Namun, yang terpenting adalah kita juga merasa nyaman. Mulai mengurangi hal-hal kecil hingga terbiasa dan nyaman, tanpa terasa merambah ke hal-hal besar.

Aku sampai sekarang sama sekali enggak merasa terganggu dengan 7 perubahan yang telah aku lakukan di atas. Ingin menambah aksi ramah lingkungan? Pastinya! Begitu banyak rencana-rencana di kepala, seperti:
1. Mengganti sabun cuci baju, lantai dan piring menggunakan ekstrak buah lerak.
2. Mengganti sabun mandi dan wajah dengan sabun batang tanpa kemasan.
3. Mengganti alat pembersih degan loofah atau sabut kelapa.
4. Beralih ke merek lokal yang mengusung sustainable fashion.

Sudah, 4 rencana pun belum tentu langsung terlaksana dalam waktu dekat ini.

Intinya mari sama-sama berproses, sekecil apapun itu. Dan jangan berhenti. :)

You May Also Like

1 comments

  1. Iya sih, kalau mau totally changing kayaknya gak mudah. Apalagi hanya satu dua orang yang sadar. Maunya dari seluruh kalangan baik itu customer maupun producer makanan/minuman/skincare/dan daily stuffs lainnya. Jadi kegiatan ramah lingkungan bakal lebih ringan, walaupun tetap saja butuh waktu untuk merubah itu

    ReplyDelete

Thank you ya sudah mampir dan meninggalkan komentar 😍