Menuju Ramah Lingkungan dan Minimalis 2019?! - Amin!

Setelah ikut acara Sejauh Mata Memandang beberapa waktu lalu yang membahas tentang kondisi laut di Indonesia, aku jadi ingin memperbaiki gaya hidup supaya lebih ramah lingkungan. Terlebih beberapa waktu ini aku memang tertarik mempelajari minimalist lifestyle, dan sepertinya dua hal ini sejalan satu sama lain. Bukan berarti tim maksimalis enggak bisa ramah lingkungan, tapi kalau menyatukan konsep minimalis dengan less waste rasanya lebih gampang aja, gitu.

gaya hidup zero waste minimalis


MENUJU RAMAH LINGKUNGAN 2019


Aku kan orangnya cepat bosan, jadi sudah tau kalau enggak mau maksain diri bener-bener zero waste. Daripada nanti keburu merasa tersiksa lalu jadi cepat menyerah, aku lakukan perlahan-lahan dulu. Akupun masuknya juga masih less waste beginner level, sih. Kalau ada sampah yang bisa aku minimalisir tanpa usaha besar, sebisa mungkin aku lakukan. Seperti:

- Memakai tas belanja sendiri kalau ke supermarket. Ini udah aku terapin dari dulu. Kalau belanja bulanan selalu minta dibungkus pakai kardus bekas.

- Mulai pikir-pikir lagi kalau mau beli barang fashion. Dulu masih tergoda beli barang-barang kekinian dan murah meriah, tapi sekarang mencoba beli yang modelnya lebih timeless dan awet.

- Sangat mengurangi beli kopi susu kekinian. Kadang masih beli sih cuma kalau udah kabita pisan. Jadi sebagai gantinya aku bikin sendiri di rumah. Iya, masih pakai kopi bungkus, masih pakai susu kotak, masih pakai gula di kemasan plastik. Intinya masih ada sampahnya tapi (semoga) lebih minim dibanding plastic cup itu, sih. (mudah-mudahan).

- Mengurangi beli buah di supermaket. Soalnya belum punya tas jaring-jaring ehehehe... Ini temporary, sampai aku punya tas jaring-jaring nanti. Karena kalau beli buah di supermarket harus pakai plastik sebelum ditimbang.

- No more plastic straw. Aku udah 98% enggak pernah pakai sedotan plastik. Kalaupun enggak ada sedotan stainless, langsung tenggak aja dari gelas.

gaya hidup zero waste minimalis


MENUJU MINIMALIS 2019


Gimana caranya menjadi seorang minimalist? Minimalis adalah less is more. Katanya semakin sedikit barang yang kita punya, semakin bebas juga pikiran kita untuk lebih fokus kepada hal-hal yang lebih penting di dalam hidup. Jadi aku ingin fokus pada hal-hal yang benar-benar aku butuhkan. Kemarin aku sudah sempat pilah barangku dari berbagai kategori; baju, buku, makeup dan alas kaki. Aku buang dan aku donasikan yang sudah jarang dan hampir enggak pernah aku pakai.

Sayang sekali aku nggak mendokumentasikan semuanya, yang aku ingat hanya ketika declutter alas kaki aja.. huhu. Tapi sepertinya aku masih akan declutter baju dan makeup aku, sih. Jadi lain kali akan aku dokumentasikan, ya.

Anyway, dari dulu aku merasa aku enggak punya banyak alas kaki seperti orang lain. Pokoknya aku termasuk yang jarang beli sepatu dibanding teman-temanku. Tapi ternyata aku orangnya suka menumpuk barang. Jadi alas kaki yang aku punya dari 8 tahun lalu masih ada aku simpan sampai kemarin. Itu pun udah enggak pernah aku pakai, tapi aku pikir mungkin lain kali pakai. Nyatanya, enggak pernah sama sekali! Bentuknya pun udah sedikit usang yang bikin aku tambah malas pakai. Lalu buat apa aku simpan?

gaya hidup zero waste minimalis

Akhirnya dengan mengumpulkan kesadaran untuk lebih tegas dan tega, aku akhirnya merelakan beberapa sepatu untuk dibuang dan didonasikan. Beberapa sudah punya dari lama, dan bentuknya sudah usang. Tapi beberapa lagi masih sangat bagus dan jarang aku pakai karena beli pas lagi "lapar mata" aja, ngikutin tren tapi ternyata enggak cocok sama bentuk tubuh aku, hehe.

Sekarang, aku cuma punya beberapa alas kaki yang benar-benar sering aku pakai dan beberapa untuk acara khusus! Kalau aku breakdown, aku punya:

- Untuk sehari-hari, ada 1 thong sandals, 1 strap sandals, 1 white sneakers. Aku memang sediakan 3 jenis untuk sehari-hari karena 3 model ini fungsinya berbeda-beda. Ada yang untuk musim hujan, ada yang untuk jalan-jalan dekat, ada juga yang untuk jalan-jalan jauh. Lalu katanya alas kaki sebaiknya dipakai bergantian agar lebih awet.

- Untuk acara khusus, 1 running shoes, 2 flat mules (dengan warna dan bahan berbeda), 1 heels mules, 1 flat shoes.

gaya hidup zero waste minimalis

That's it! Mungkin seperti masih banyak ada 8, tapi itu benar-benar dipakai semua dan benar-benar favoritku (beli karena suka dan memang selalu dipakai, bukan karena diskon atau lapar mata). I'm quite satistfied after decluttering my shoes. Rasanya lebih nyaman karena hafal punya alas kaki apa saja dan tau kapan pakainya.


YANG PALING SULIT


Jadi anak bayi tentunya menemukan banyak kesulitan saat belajar. Aku benar-benar ingin mengurangi sampah, tapi kadang tanpa sadar masih beli jajanan yang ada sampah plastiknya. Lalu sebenarnya konsep less waste itu kan memanfaatkan apa yang kita punya, dan pakai sampai barang tersebut habis atau rusak serusak-rusaknya. Tapi kadang demi memulai gaya hidup less waste aku malah jadi konsumtif. Ingin beli sedotan ramah lingkungan, eco bag, tempat minum baru dan lainnya. Ini sih yang masih harus aku perbaiki.

Lalu hambatan lainnya adalah aku terlalu memaksakan diri. Aku bisa dibilang cukup tertarik dengan dunia kecantikan. Ingin coba-coba produk baru, dan punya beberapa koleksi makeup. Terlebih punya blog tentang kecantikan pastinya menuntut aku untuk terus coba-coba produk baru untuk di-review. Ini pastinya enggak sejalan dengan gaya hidup less waste dan minimalis yang ingin aku terapkan. Jadilah aku kemarin buang semua produk-produk yang sudah kedaluwarsa, enggak beli produk apapun kalau dia nggak berlabel green beauty (kecuali dapat dari kantor). Seidealis itu. Alhasil aku pun enggak yakin bisa terus menulis blog dan akhirnya aku memutuskan keluar dari grup komunitas blogger karena merasa dengan gaya hidup minimalis dan less waste aku enggak akan bisa memenuhi kewajibanku.

Awalnya aku yakin aku bisa mempertahankan idealisme ini. Tapi makin ke sini aku pikir terlalu memaksakan diri. Konsep minimalis itu bukan untuk menyiksa, tapi justru untuk membuat hidup lebih baik. Jadi kalau di bagian hobi kita lebih suka jadi maksimalis, enggak masalah juga sebenarnya.

Jadi untuk ini aku sadar, yang membuat sulit adalah idealisme diriku sendiri. Sekarang aku mau tetap mengikuti hobiku, namun lebih bijak. Misalkan aku ingin mencoba produk baru, sebisa mungkin aku cari yang green beauty, jika enggak ada yang cocok, baru aku pilih produk konvensional. Namun aku enggak akan beli sesuatu hanya untuk membuat blog aku viral atau karena nanti pageviews-nya tinggi.


RENCANA KE DEPAN


BANYAK. Hahaha. Ingin hanya membeli sustainable & ethical fashion items, selalu sedia botol minum dan tempat makan di dalam tas agar enggak lagi pakai plastik sekali pakai tiap jajan camilan, ingin berbenah dan menata ulang kamar supaya jadi minimalist bedroom dan ingin menularkan minimalist lifestyle ini ke teman-teman lainnya. Tapi ini ibarat anak TK dengan cita-cita jadi pilot, sih, alias masih jauh!

Maaf banyak curhat di tulisan kali ini. Semoga aku bisa mempertahankan komitmen gaya hidup ramah lingkungan dan minimalis ku ini, ya teman-teman. Ganbatte, fighting!

Comments